Kumpulan Broker Internasional, Broker dengan Cashback Rebate 90% dari komisi kami sebagai IB, 90% Rebate terbesar di Indonesia


    REBATE BROKER INDONESIA

Master IB Broker pemberi cashback rebate Terbesar di Indonesia

www.rebatebrokerindonesia.com adalah Master IB Brokers di banyak Brokers seperti :
XM, Exness, Justmarkets, Tickmill dan HFM
Setelah mendaftar di IB kami wajib mengisi form verifikasi Rebate agar kami bisa melakukan pengecekan akun anda : Verifikasi Rebate Brokers
==========================================================

Legality Auto Rebate International


MASTER IB Brokers
  • Apa itu Auto Rebate Brokers?

    Auto Rebate Brokers adalah Rebate/cashback dari pengembalian spread yang otomatis ditransfer oleh pihak Broker ke Akun Trading / Dompet / Wallet anda dengan syarat anda harus mendaftar dengan Link atau kode IB partners kami, agar kami bisa mensetting 90% Rebate ke Anda

    Apakah Kondisi Perdagangan tetap sama?

    Kami menjamin bahwa semua komisi, spread, dan ketentuan perdagangan tetap sama.

    Apakah gratis untuk mengikuti program cashback / rebate?

    Ya, program ini gratis hanya dengan bergabung melalui IB kami. Lebih lanjut, kami akan membayar Anda dengan mengembalikan komisi kami 90% ke anda untuk setiap transaksi trading Anda.

    Bagaimana saya akan menerima Rebate saya?

    Rebate otomatis ditransfer ke akun trading (Exness, HFM, Justmarkets, Tickmill) atau Dompet/wallet ( XM). Setelah itu, Anda dapat menarik uang rebate dengan semua metode yang disediakan oleh Broker pilihan anda.

    saya sudah memiliki akun, apakah saya bisa pindah IB untuk mendapatkan rebate?

    Tentu saja bisa, panduannya bisa anda klik link dibawah

    - Pindah IB XM Click Here

    - Pindah IB Exness Click Here

    - Pindah IB Justmarkets Click Here

    - Pindah IB HFM Click Here

    - Pindah IB Tickmill Click Here

Harga Emas Tertekan

 

Harga emas dunia (XAU/USD) kembali melemah pada Rabu, 21 Oktober 2026, dan mencatat penurunan selama empat sesi berturut-turut. Tekanan terhadap logam mulia dipicu oleh kenaikan harga minyak mentah, kekhawatiran inflasi, serta ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi menaikkan suku bunga pada akhir tahun.

Di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, investor terus mencermati pergerakan dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS sebagai penentu arah harga emas selanjutnya. Kombinasi faktor tersebut membuat emas kesulitan mempertahankan momentum pemulihannya.

Harga Emas Dunia Hari Ini

Berdasarkan laporan Reuters pada pukul 09.10 GMT, harga emas spot (XAU/USD) turun 0,1% menjadi US$4.121,27 per troy ounce. Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman Desember melemah 0,1% ke level US$4.139,50 per troy ounce.

Penurunan tersebut membawa harga emas ke level terendah sejak 15 Oktober 2026. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih mendominasi pasar, terutama di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap prospek inflasi dan kebijakan moneter AS.

Faktor Penggerak Harga Emas

1. Kenaikan Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi

Harga minyak mentah Brent naik ke sekitar US$110,11 per barel seiring meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi.

Kenaikan harga minyak berisiko mendorong biaya energi dan transportasi, sehingga memperbesar tekanan inflasi. Kondisi ini dapat membuat bank sentral AS mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama atau mempertimbangkan pengetatan kebijakan moneter.

Bagi emas, situasi tersebut menjadi tantangan karena kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dan mengurangi minat terhadap logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil.

2. Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga The Fed Membebani Emas

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00% dalam pertemuan 27–28 Oktober 2026.

Namun, seluruh 100 ekonom yang berpartisipasi dalam survei tersebut memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada Desember. Ekspektasi ini menunjukkan bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter menjelang akhir tahun masih menjadi perhatian utama pasar.

Apabila prospek suku bunga tinggi semakin menguat, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi mendapatkan dukungan. Kondisi tersebut dapat membatasi potensi kenaikan XAU/USD dalam jangka pendek.

3. Ketegangan Geopolitik Menjaga Ketidakpastian Pasar

Perkembangan konflik di Timur Tengah dan risiko gangguan jalur pelayaran energi masih menjadi perhatian investor global.

Di satu sisi, meningkatnya ketidakpastian geopolitik dapat mendorong permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Namun, di sisi lain, kenaikan harga energi berpotensi memperburuk inflasi dan memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.

Dinamika tersebut membuat respons harga emas menjadi lebih kompleks. Meskipun permintaan aset lindung nilai berpotensi meningkat, tekanan dari ekspektasi suku bunga dan pergerakan dolar AS masih dapat membatasi penguatan logam mulia.

Analisis Teknikal XAU/USD

Secara jangka pendek, pergerakan XAU/USD masih menunjukkan kecenderungan bearish setelah harga mencatat penurunan selama empat sesi berturut-turut. Tekanan jual berpotensi berlanjut apabila sentimen terhadap dolar AS dan prospek suku bunga tetap mendukung penguatan aset berbunga.

Berikut tiga skenario yang perlu diperhatikan:

  • Skenario bearish: Harga emas berisiko melanjutkan pelemahan apabila menembus area support terdekat dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed semakin menguat.

  • Skenario rebound: XAU/USD berpeluang pulih apabila dolar AS dan imbal hasil Treasury melemah, terutama jika tekanan dari kenaikan harga minyak mulai mereda.

  • Fokus pasar: Investor akan mencermati pertemuan The Fed pada 27–28 Oktober 2026 serta rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS yang dijadwalkan pekan berikutnya.

Level support dan resistance spesifik belum dapat dipastikan berdasarkan data yang tersedia. Oleh karena itu, konfirmasi melalui grafik harga terbaru tetap diperlukan sebelum menentukan area teknikal utama.

Emas Masih Dibayangi Tekanan

Harga emas dunia pada 21 Oktober 2026 masih berada di bawah tekanan akibat kenaikan harga minyak, risiko inflasi, dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun. Penurunan selama empat sesi berturut-turut juga menunjukkan bahwa momentum bearish masih perlu diwaspadai.

Meski demikian, ketidakpastian geopolitik tetap berpotensi menopang permintaan emas sebagai aset safe haven. Arah pergerakan berikutnya akan sangat bergantung pada dinamika dolar AS, imbal hasil Treasury, harga energi, dan sinyal kebijakan moneter AS.

Share:

Emas Menguat Mendekati $4.200

 


Harga emas dunia (XAU/USD) menguat pada Senin, 19 Oktober 2026, dan bergerak mendekati level US$4.200 per troy ounce. Kenaikan ini didukung oleh penurunan harga minyak, melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS), serta meredanya kekhawatiran pasar terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) dalam waktu dekat.

Meski demikian, prospek kebijakan moneter AS masih menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.

Pergerakan Harga Emas Terbaru

Harga emas spot (XAU/USD) tercatat berada di level US$4.181,84 per troy ounce, mendekati area psikologis US$4.200. Pergerakan selanjutnya akan dipengaruhi oleh dinamika inflasi AS, arah imbal hasil Treasury, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Faktor Utama Penggerak Harga Emas

1. Penurunan Harga Minyak Mendukung Emas

Harga minyak dunia melemah setelah Amerika Serikat mengambil langkah terkait sanksi dan tarif terhadap Rusia yang berpotensi membuka peluang peningkatan ekspor bahan bakar Rusia.

Penurunan harga minyak membantu meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Kondisi ini berpotensi menguntungkan emas karena berkurangnya tekanan inflasi dapat mengurangi dorongan bagi bank sentral untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.

2. Imbal Hasil Treasury AS Melemah

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 5,065% dalam perdagangan sesi Asia. Penurunan yield menjadi salah satu faktor yang mendukung harga emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.

Ketika imbal hasil obligasi menurun, biaya peluang untuk memegang emas cenderung berkurang. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik emas bagi investor, terutama ketika pasar mulai mengantisipasi kemungkinan perubahan arah kebijakan moneter AS.

3. Kebijakan Suku Bunga The Fed Masih Membayangi

Di tengah dukungan dari pelemahan harga minyak dan imbal hasil Treasury, prospek suku bunga AS tetap menjadi risiko utama bagi pergerakan emas.

Data inflasi konsumen (CPI) dan inflasi produsen (PPI) AS yang lebih kuat dari perkiraan pada pekan sebelumnya membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga.

Menurut laporan Reuters, pasar memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga sebesar 15% pada Oktober dan 89% pada Desember berdasarkan CME FedWatch Tool.

Ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa arah kebijakan The Fed masih menjadi perhatian utama investor. Apabila tekanan inflasi tetap tinggi dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi serta penguatan dolar AS, harga emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.

Outlook Harga Emas XAU/USD Hari Ini

Skenario Bullish: Menguji US$4.200

Harga emas berpeluang melanjutkan penguatan apabila mampu mempertahankan momentum positif dan menembus area US$4.200 per troy ounce.

Pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil Treasury dapat menjadi katalis tambahan bagi kenaikan harga emas. Jika kedua faktor tersebut berlanjut, perhatian pasar akan tertuju pada kemampuan XAU/USD mempertahankan momentum bullish.

Skenario Bearish: Kembali di Bawah US$4.150

Sebaliknya, harga emas berisiko mengalami koreksi apabila tekanan inflasi kembali meningkatkan imbal hasil obligasi AS dan mendorong penguatan dolar AS.

Kegagalan XAU/USD mempertahankan posisi di atas area US$4.150 juga menjadi salah satu level yang perlu diperhatikan pelaku pasar untuk menilai potensi pelemahan lanjutan.

Perlu dicatat, level US$4.150 dan US$4.200 merupakan area pantauan pasar, bukan level support atau resistance yang telah terkonfirmasi secara teknikal. Kedua skenario tersebut juga merupakan gambaran berdasarkan faktor fundamental, bukan sinyal transaksi yang pasti.

Emas Menanti Arah The Fed

Harga emas dunia pada Senin, 19 Oktober 2026, menguat mendekati US$4.200 per troy ounce. Pelemahan harga minyak dan penurunan imbal hasil obligasi AS menjadi faktor pendukung, sementara ketidakpastian kebijakan suku bunga The Fed masih membatasi potensi kenaikan lebih lanjut.

Ke depan, investor akan mencermati pergerakan dolar AS, imbal hasil Treasury, data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), serta pertemuan The Fed yang dijadwalkan pada pekan berikutnya.

Kombinasi faktor tersebut berpotensi menentukan apakah XAU/USD mampu menembus US$4.200 atau kembali menghadapi tekanan jual dalam jangka pendek.

Share:

Sinyal Reversal Emas

 


Harga emas dunia atau XAUUSD berpotensi menguat setelah membentuk pola Double Bottom pada grafik harian. Berdasarkan analisis teknikal Dupoin Futures, formasi tersebut mengindikasikan peluang pembalikan tren dari bearish menuju bullish. Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati level support dan resistance serta perkembangan ekonomi global yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas.

Geraldo Kofit, analis Dupoin Futures, menilai pola Double Bottom menjadi sinyal teknikal penting yang perlu diperhatikan. Pola ini terbentuk ketika harga menguji area terendah sebanyak dua kali dan mengindikasikan potensi melemahnya tekanan jual. Jika momentum bullish semakin kuat, XAUUSD berpeluang bergerak menuju area resistance US$4.276–US$4.316.

Dalam analisis Dupoin Futures, level US$4.171 menjadi support utama yang perlu dipantau. Selama harga emas mampu bertahan di atas level tersebut, peluang pembalikan tren ke arah bullish masih terbuka. Sebaliknya, jika tekanan jual meningkat dan harga menembus support, prospek kenaikan perlu dievaluasi kembali.

Ketegangan Geopolitik Dukung Emas

Selain faktor teknikal, pergerakan emas turut dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah berpotensi meningkatkan permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai atau safe haven. Ketika risiko global meningkat, investor cenderung mempertimbangkan emas untuk membantu melindungi nilai portofolio mereka.

Dupoin Futures juga menyoroti pergerakan harga minyak sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi prospek emas. Penurunan harga minyak berpotensi meredakan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut dapat mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang pada akhirnya berpotensi memengaruhi daya tarik emas.

Dolar AS dan The Fed Jadi Perhatian

Meski peluang penguatan masih terbuka, harga emas menghadapi sejumlah tantangan. Penguatan dolar AS dapat membatasi kenaikan XAUUSD karena membuat emas lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Selain itu, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve atau The Fed tetap menjadi faktor penting. Suku bunga yang bertahan tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan emas, yang tidak memberikan imbal hasil langsung. Sebaliknya, prospek pelonggaran kebijakan moneter berpotensi memberikan dukungan bagi harga logam mulia tersebut.

Oleh karena itu, Dupoin Futures menekankan pentingnya mengamati kombinasi sinyal teknikal dan perkembangan fundamental sebelum mengambil keputusan. Pola Double Bottom dapat menjadi indikasi awal pembalikan tren, tetapi konfirmasi pergerakan harga tetap dibutuhkan untuk menilai kekuatan dan keberlanjutan momentum bullish.

Support dan Resistance XAUUSD

Dengan support di US$4.171 dan resistance di US$4.276–US$4.316, arah pergerakan emas selanjutnya akan bergantung pada kemampuan harga mempertahankan support dan menembus area resistance terdekat.

Analisis Dupoin Futures ini dapat menjadi referensi bagi pelaku pasar dalam memahami peluang dan risiko pergerakan XAUUSD. Namun, pola teknikal tidak menjamin harga akan bergerak sesuai proyeksi.

Investor dan trader tetap perlu memantau perkembangan geopolitik, pergerakan dolar AS, rilis data ekonomi Amerika Serikat, serta pernyataan pejabat The Fed. Faktor-faktor tersebut dapat memicu perubahan volatilitas dan memengaruhi arah harga emas dalam jangka pendek.

Share:

Emas Rebound Dolar Melemah

 

Harga emas dunia menguat pada Kamis setelah mengalami tekanan tajam pada sesi sebelumnya. Pemulihan ini didukung oleh pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi Treasury AS, meskipun data inflasi Amerika Serikat (AS) yang lebih tinggi dari perkiraan meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Pada pukul 16.41 WIB, harga emas spot (XAU/USD) naik 1,2% menjadi US$4.152,51 per troy ounce. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS menguat 1,6% ke level US$4.173,75 per troy ounce.

Kenaikan tersebut terjadi setelah harga emas merosot tajam pada Rabu akibat percepatan inflasi konsumen bulanan AS yang melampaui ekspektasi pasar. Lonjakan biaya energi, yang dipicu oleh konflik di Iran, menjadi salah satu faktor utama yang mendorong tekanan inflasi.

Inflasi AS Tekan Harga Emas

Data inflasi yang lebih panas dari perkiraan mendorong investor meningkatkan taruhan bahwa The Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan moneter 27–28 Oktober. Ekspektasi bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut pun semakin berkurang.

Reaksi awal pasar terlihat dari kenaikan imbal hasil Treasury AS dan penguatan dolar. Kondisi ini memberikan tekanan terhadap harga emas karena suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil, seperti emas.

Selain itu, penguatan dolar AS membuat emas menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain, sehingga berpotensi mengurangi permintaan global terhadap logam mulia tersebut.

Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat mulai mereda. Analis Vital Knowledge mencatat bahwa pasar kini memperkirakan kenaikan suku bunga kumulatif sekitar 30 basis poin hingga akhir tahun, dibandingkan ekspektasi sebelumnya sebesar 25 basis poin.

Dolar Melemah, Emas Pulih

Penurunan imbal hasil Treasury AS turut membantu pemulihan harga emas. Pelemahan saham-saham yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI) mendorong sebagian investor beralih ke obligasi pemerintah AS sebagai aset yang dianggap lebih aman.

Pergerakan tersebut turut menekan dolar AS. Pada pukul 16.39 WIB, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama, turun 0,5% ke level 102,01.

Pelemahan dolar memberikan dukungan bagi emas karena membuat logam mulia tersebut relatif lebih terjangkau bagi pembeli internasional. Penurunan imbal hasil obligasi juga membantu mengurangi tekanan terhadap aset yang tidak menghasilkan bunga.

Meski demikian, prospek emas masih dibayangi ketidakpastian kebijakan moneter AS. Pasar tetap memperhitungkan kemungkinan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga setidaknya satu kali lagi pada 2026, terutama jika tekanan inflasi terus meningkat.

Sikap Hawkish The Fed Jadi Risiko

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago, Austan Goolsbee, menilai laporan inflasi terbaru mengecewakan. Ia juga memperingatkan bahwa investasi besar-besaran dalam infrastruktur kecerdasan buatan berpotensi mendorong aktivitas ekonomi terlalu panas dan menambah tekanan inflasi.

Menurut Goolsbee, masih terlalu dini untuk memastikan apakah tingkat suku bunga saat ini sudah cukup tinggi untuk mengembalikan inflasi ke target 2% yang ditetapkan The Fed.

Pernyataan tersebut memperkuat ketidakpastian mengenai arah kebijakan moneter AS. Jika inflasi tetap persisten, bank sentral berpotensi mempertahankan kebijakan ketat lebih lama atau kembali menaikkan suku bunga. Kondisi ini dapat membatasi potensi kenaikan harga emas dalam jangka pendek.

Permintaan Bank Sentral Jadi Kunci

Direktur Pelaksana The Gold Bullion Company, Rick Kanda, mengatakan bahwa prospek harga emas pada tahun depan akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama. Di antaranya adalah keberlanjutan permintaan dari bank sentral, perkembangan suku bunga AS, pergerakan dolar, serta minat investor terhadap aset safe haven.

Permintaan bank sentral yang kuat selama ini menjadi salah satu faktor pendukung pasar emas. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global, emas tetap menarik bagi investor yang ingin melakukan diversifikasi aset dan melindungi nilai kekayaan.

Meski demikian, arah pergerakan emas selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan inflasi AS dan respons The Fed. Pelemahan dolar serta penurunan imbal hasil Treasury dapat membuka peluang pemulihan lebih lanjut, tetapi ekspektasi suku bunga tinggi masih menjadi risiko yang perlu diperhatikan pelaku pasar.

Share:

Target Rebound Emas

 

Harga emas dunia (XAU/USD) berpeluang mengalami rebound dalam perdagangan Rabu, 14 Oktober 2026. Berdasarkan analisis Dupoin Futures Indonesia, potensi kenaikan harga emas masih terbuka selama level support US$4.118 per troy ounce mampu dipertahankan.

Mengutip analisis Dupoin Futures Indonesia pada Rabu pukul 11.04 WIB, XAU/USD berpotensi menguat menuju US$4.232 apabila tekanan jual tidak mendorong harga menembus area support utama tersebut.

“Meskipun terjadi koreksi saat ini, rebound diperkirakan di sekitar 4.232 selama 4.118 masih utuh,” tulis Dupoin dalam analisisnya.

Sebaliknya, jika harga emas menembus ke bawah US$4.118, tekanan bearish berpotensi meningkat. Dalam skenario tersebut, XAU/USD diperkirakan dapat melanjutkan penurunan menuju US$4.081, dengan target berikutnya di US$4.059.

“Di bawah 4.118, perkiraannya adalah 4.081 dan 4.059,” lanjut Dupoin.

Indikator Teknikal Beri Sinyal Pemulihan

Dari sisi teknikal, indikator Relative Strength Index (RSI) berada di atas level 50. Posisi ini menunjukkan bahwa momentum beli masih relatif terjaga dan membuka peluang bagi harga emas untuk melanjutkan pemulihan.

Sementara itu, indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) berada di atas garis sinyal, meskipun masih bergerak di wilayah negatif. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perbaikan momentum, tetapi belum cukup kuat untuk mengonfirmasi tren kenaikan secara penuh.

Untuk memperkuat sinyal bullish, MACD perlu bergerak menembus level nol dan memasuki wilayah positif. Jika hal tersebut terjadi, peluang penguatan harga emas dapat semakin terbuka.

XAU/USD Hadapi Resistance MA 50

Pergerakan harga emas terhadap indikator moving average juga menunjukkan kondisi yang beragam. XAU/USD tercatat berada di atas Moving Average (MA) 20 periode pada level US$4.159, tetapi masih di bawah MA 50 periode yang berada di US$4.172.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa harga emas mulai memperlihatkan tanda pemulihan dalam jangka pendek. Namun, tekanan dari rata-rata pergerakan yang lebih panjang masih menjadi tantangan bagi pembeli untuk mendorong harga naik lebih tinggi.

Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati kemampuan XAU/USD untuk menembus area MA 50 di US$4.172 sebagai salah satu acuan momentum kenaikan berikutnya.

Level Kunci Harga Emas Hari Ini

Secara keseluruhan, US$4.118 menjadi level support penting yang menentukan arah pergerakan XAU/USD dalam jangka pendek.

Selama harga emas bertahan di atas area tersebut, peluang rebound menuju US$4.232 masih terbuka. Sebaliknya, jika support US$4.118 ditembus, risiko penurunan menuju US$4.081 hingga US$4.059 perlu diwaspadai.

Pelaku pasar juga perlu memperhatikan perkembangan ekonomi global, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta sentimen geopolitik yang dapat memengaruhi volatilitas harga emas.

Perlu diingat bahwa proyeksi teknikal bukan jaminan pergerakan harga di masa mendatang. Oleh karena itu, penerapan manajemen risiko dan evaluasi kondisi pasar tetap penting sebelum mengambil keputusan transaksi.

Share:

SSR Mining Akuisisi Roxmore

 

SSR Mining Inc. (NASDAQ: SSRM) mengumumkan pada Senin bahwa perusahaan telah menandatangani perjanjian definitif untuk mengakuisisi seluruh saham beredar Roxmore Resources Inc. (TSX: RM) dengan nilai transaksi sekitar US$464 juta dalam bentuk tunai. Langkah strategis ini bertujuan memperluas operasi pertambangan emas SSR Mining di Nevada, Amerika Serikat.

Berdasarkan ketentuan kesepakatan, pemegang saham Roxmore akan menerima C$6,75 per saham secara tunai. Harga tersebut mencerminkan premi sebesar 27% dibandingkan harga penutupan saham Roxmore pada 9 Oktober 2026, serta premi 47% terhadap harga rata-rata tertimbang volume perdagangan selama 20 hari. Nilai perusahaan dari transaksi ini diperkirakan mencapai US$392 juta.

Selain pembayaran tunai, pemegang saham Roxmore juga akan memperoleh saham pada perusahaan eksplorasi baru yang dibentuk untuk menampung sejumlah aset Roxmore.

Perluas Operasi Nevada

Akuisisi ini akan menambahkan Proyek Emas Converse ke dalam portofolio SSR Mining. Proyek tersebut berlokasi sekitar enam kilometer dari Kompleks Marigold milik SSR Mining di Nevada, sehingga membuka peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengoptimalkan pengembangan aset pertambangan di wilayah tersebut.

Berdasarkan estimasi sumber daya mineral Roxmore tahun 2026, Proyek Emas Converse memiliki sumber daya terindikasi sebesar 103 juta ton dengan kadar emas 0,65 gram per ton, setara dengan kandungan sekitar 2,2 juta ons emas. Selain itu, proyek ini memiliki sumber daya tereka sebesar 218 juta ton dengan kadar 0,43 gram per ton, yang mengandung sekitar 3,0 juta ons emas.

Potensi sumber daya tersebut memberikan peluang bagi SSR Mining untuk memperkuat basis produksi emas jangka panjang melalui pengembangan proyek baru di dekat fasilitas pertambangan yang sudah beroperasi.

Target Produksi 2033

SSR Mining berencana mengembangkan Proyek Emas Converse untuk menambah produksi tahunan sekitar 150.000 hingga 170.000 ons emas. Proyek ini diperkirakan memiliki umur tambang selama 10 tahun, dengan target produksi pertama pada 2033.

Perusahaan memperkirakan kebutuhan belanja modal awal untuk pembangunan proyek berkisar antara US$800 juta hingga US$900 juta. Namun, tidak ada pengeluaran modal material yang diproyeksikan hingga awal dekade 2030-an.

Jadwal pengembangan tersebut memberikan waktu bagi SSR Mining untuk mempersiapkan tahapan konstruksi sekaligus mengoptimalkan perencanaan operasional sebelum produksi dimulai.

Sinergi Lebih US$200 Juta

SSR Mining memperkirakan akuisisi Roxmore dapat menghasilkan sinergi sepanjang umur tambang dengan nilai tidak didiskon lebih dari US$200 juta. Potensi penghematan ini diperkirakan berasal dari penghapusan biaya yang tumpang tindih serta peningkatan efisiensi operasional dibandingkan apabila Proyek Emas Converse dikembangkan secara independen.

Kedekatan lokasi Converse dengan Kompleks Marigold menjadi salah satu faktor penting yang mendukung potensi sinergi tersebut. Integrasi kedua aset diharapkan membantu perusahaan memaksimalkan pemanfaatan infrastruktur dan mengurangi duplikasi biaya operasional.

Persetujuan dan Jadwal Transaksi

Penyelesaian akuisisi masih memerlukan persetujuan sedikitnya dua pertiga suara yang diberikan oleh pemegang efek Roxmore dalam rapat khusus, serta persetujuan pengadilan. Perjanjian tersebut juga mencakup biaya pemutusan sebesar C$18 juta yang harus dibayarkan kepada SSR Mining dalam kondisi tertentu.

Direktur, jajaran eksekutif, dan sejumlah pemegang saham utama Roxmore yang secara kolektif memiliki sekitar 26,8% saham beredar telah menyepakati komitmen untuk memberikan suara mendukung transaksi tersebut.

SSR Mining memperkirakan akuisisi ini akan selesai pada kuartal keempat 2026. Pendanaan transaksi akan menggunakan posisi kas perusahaan yang tersedia saat ini.

Melalui akuisisi Roxmore, SSR Mining berupaya memperkuat portofolio aset emasnya di Nevada, meningkatkan potensi produksi jangka panjang, serta menciptakan efisiensi biaya melalui pengembangan proyek yang berdekatan dengan operasi pertambangan yang sudah ada.

Share: